Sejak mengenal nama Hasan Al Banna,
hanya sedikit yang kita ketahui
bagaimana kehidupan rumah tangganya, siapa istrinya?
siapa anaknya? hanya sedikit kita yang mengetahuinya... dan ternyata beginilah ceritanya....
Adalah Lathifah As Suri perempuan itu. Ia berdiri
disamping Imam Syahid Al Banna. Sejak awal Imam Syahid telah menegaskan bahwa
ia butuh seorang muslimah yang kokoh, yang tak lekang dan surut oleh banyaknya
halangan dan rintangan dalam berdakwah. Perjuangan Imam Syahid bukanlah suatu
hal yang main-main, bukan hanya sekedar dakwah seperti kebanyakan orang waktu
itu. Bukan hanya sekedar membangun rumah kardus. Imam syahid tengah dan hendak
membangun sebuah peradaban. Dan ia percaya, peradaban tak akan pernah terwujud,
tanpa seseorang yang ia yakini kesejatiannya.
Maka siapapun itu-pendampingnya-harus menyadari
bahwa dipundaknya ada amanah yang sama besarnya dengan yang di emban oleh Imam
Syahid. Ada dimensi waktu dan kuasa kapital disitu. Maka pertemuan diyakini
menjadi suatu hal yang mahal bagi Imam Syahid dan istrinya.
Maka bagi Lathifah As Suri menjadi istri Hasan Al
Banna menyimpan begitu banyak geregap. Sejak awal pernikahan, Lathifah sudah
menyadari bahwa ia harus siap jika sewaktu-waktu dia harus menjalani hidup
sendiri tanpa seseorang, tempat berlabuh hidup dan cintanya.
Dakwah Ikhwah yang dipimpin oleh suaminya banyak
meminta resiko yang bukan main-main. Penjara bahkan nyawa menjadi konsekuensi
logis, yang sewaktu-waktu siap menyapanya.
Tanpa diminta, Lathifah sudah tahu dan mengerti
bagaimana ia harus menempatkan dirinya. Ia memutuskan menutup seluruh aktivitas
luarnya. Hanya satu yang ia curahkan, jihad utamanya adalah dilingkup rumahnya
sendiri. Mengurus rumah tangga dan membesarkan anak-anak mereka berdua adalah
dua hal yang tidak kalah pentingnya dengan yang dilakukan oleh Hasan Al Banna.
Sebelum menikah dengan Hasan Al Banna, Lathifah
berasal dari keluarga yang taat beragama. Hingga tak heran jika ia menyadari
betul tuntutan hidup menjadi istri seorang dai.
Malam, ia harus rela untuk terbangun menyambut
kepulangan suaminya. Walau tak jarang Imam Syahid berlaku sangat hati-hati,
bahkan hanya untuk membuka pintu rumahnya sekalipun. Jauh dilubuk hatinya, Imam
Syahid tidak ingin mengganggu tidur bidadari terkasihnya yang telah seharian
mengurus rumah dan anak-anak mereka berdua. Imam Syahid bahkan tak segan untuk
menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri.
Lathifah tidak pernah mengeluh, walau
sehari-harinya hanya ia habiskan seputar rumah dan rumah saja. Ia tidak pernah
menuntut lebih kepada Imam Syahid. Padahal, Lathifah pun -berlepas diri dari ia
seorang istri Imam Syahid- menyimpan banyak potensi. Anak-anak mereka yang
berjumlah enam orang sesungguhnya adalah pencurahan konsentrasinya menjalani
hidup. Satu-satunya yang pernah membuat dirinya gamang adalah, ketika salah
satu anak mereka sakit keras dan Imam Syahid harus tetap menjalankan jihadnya.
Ia bertanya kepada suaminya,"Bagaimana jika ia meninggal?". Imam
Syahid hanya menarik napas panjang, ia kemudian berujar "Kakeknya lebih
tau bagaimana mengurusnya."
Sejak dini, Lathifah menanamkan wawasan keislaman
kepada anak-anaknya. Mendorong mereka untuk membaca, sehingga dalam hidupnya
mereka tidak terpengaruh dengan seruan-seruan destruktif. Ketika Imam Syahid
bolak-balik keluar penjara, Lathifah berusaha bersabar dan komitmen.rnLathifah
sangat menyadari peran dan kewajiban asasi seorang wanita sebagai istri dan ibu
bagi anak-anaknya. Ia kosongkan waktunya untuk mendidik anak2nya. Ia bahagia
melihat anak-anaknya sukses dalam hal akhlak dan amal. Ini tak mungkin terjadi
jika seorang ibu sibuk di luar rumah. Seorang anak tidak mungkin belajar
tentang akhlak dan amal dari orang selain ibunya.rnKetika Hasan Al-Banna
syahid, anak-anaknya belumlah dewasa. Lathifah tidak lantas menyerah. Tak ada
kesah ataupun ketakutan dalam hatinya. Ia sangat memelihara apa yang
dikehendaki oleh mendiang suaminya. Ia tetap berlaku didalam rumah. Lathifah
tidahk meremehkan hudud (batasan) yang Allah tentukan.
Karenanya, tak heran diantara anak-anaknya tidak
ada ikhtilat (percampuran) antara anak-anaknya dan sepupunya yang berlainan
jenis.rnTidak ada yang berubah dirumah itu, apa yang Imam Syahid inginkan
berlaku dikeluarganya masih tetap di pegang teguh oleh Lathifah. Sendirian, ia
besarkan keenam anaknya. Dirumahnya kini ia mempunyai tugas tambahan, yaitu
memperdalam wawasan keislamannya.Yang dimaksud dengan wawasan keislamannya
adalah membaca Al-Quran dengan tafsirnya, mempelajari Sunnah Rasulullah SAW,
haditsnya dilanjutkan dengan usaha kuat untuk menerapkannya. LAthifah juga
masih menyempatkan diri mempelajari sejarah para salafussalih dan berita
seputar dunia Islam. Lathifah menyadari menyepelekan masalah ini akan
memunculkan persoalan serius. Seorang yang tidak menambah pengetahuan
keislamannya, akan merasa sulit untuk bangga dengan keagungan dan kebesaran
Islam. Dengan melalui pemahaman keislaman yang baik, seorang wanita akan
menyadari betapa penting perannya terhadap keluarga dan masyarakat."
Perjuangan Lathifah membuahkan hasil yang gemilang.
Semua anaknya sukses meraih predikat formal dalam pendidikan ilmiah. Yang
sulung, bernama Wafa-menjadi istri Dr.Said Ramadhan. Kedua Ahmad Saiful Islam,
kini sebagai sekjen advokat di Mesir. Ia juga pernah duduk di parlemen. Ketiga
bernama Tsana, kini sebagai dosen di Universitas Kairo. Kelima Roja, kini
menjadi dokter. Dan Halah sebagai dosen kedokteran anak di Universitas Azhar.
Dan terakhir, Istisyhad sebagai doktor ekonomi Islam. Semuanya itu sebagai
bukti, betapa berartinya sosok Ibu bagi keberhasilan dakwah sang suami. Selain
juga untuk anak-anaknya
sekedar informasi tambahan : Hasan Al Banna syahid
diusianya yang masih muda, sekitar 40 tahunan. Setelah seberondong timah panas
ditembakkan oleh musuh-musuh Islam di sebuah jalan di Kairo.rnSebenarnya Hasan
Al Banna masih bisa diselamatkan, tapi karena konspirasi politik para musuh
Islam yang dipimpin oleh sang pengkhianat la'natullah Gamal Abden Naser,
membuat tubuh Hasan Al Banna yang sedang sekarat dibiarkan tak berdaya, tanpa
bantuan dari siapapun juga, termasuk dokter-dokter di Rumah Sakit.
Akhirnya sang pendiri Ikhwanul Muslimun itu pun
syahid menemui kekasih tercintanya, Rabbnya.
Musuh-musuh Islam pun banyak yang tertawa dan
berpesta dengan syahidnya sang Imam, tapi sesungguhnya Hasan Al Banna tidak
pernah pergi meninggalkan pengikutnya.rnAllah terlalu mencintai hamba-Nya yang
satu ini, sehingga memanggilnya terlebih dahulu.rnHal yang memilukan adalah,
meskipun Ikhwanul Muslimun mempunyai puluhan ribu pengikut, tapi tak seorangpun
yang diijinkan untuk mensholati jenazah beliau, kecuali ayahnya yang sudah
udzur, saudara perempuan dan istrinya."
Subhanallah...