Sabtu, 02 Maret 2013

Perubahan Selalu Bising: 'BJB Case & Thariq bin Ziyad'

 


 “Change will not come if we wait for some other person, or if we wait for some other time. We are the ones we’ve been waiting for. We are the change that we seek.” (Barack Obama)

Tak dapat disangkal, saat ini banyak orang menyenangi kata “perubahan”. Tapi apakah mereka mengerti konsekuensi-konsekuensi dari perubahan? Rasanya belum tentu. Masih banyak orang yang berpikir change atau perubahan adalah “ganti orang” atau ganti pimpinan. Maka tak aneh bila kata “perubahan” bukan cuma laku dalam dunia usaha, melainkan juga dalam pilkada atau pemilu.

Kalau dibawa ke ranah itu, hampir pasti perubahan dibaca dari sisi politik. Atau bisa jadi kaum profesional yang sedang melakukan transformasi berpotensi menjadi korban politisasi. Lagi asyik melakukan transformasi yang bukan main banyak musuhnya, malahan dapat “musuh baru”, yaitu kandidat pejabat publik yang butuh suara. Mengapa begitu?

Selalu Ada Resistensi

Saya kira publik sudah semakin cerdas dan mengerti, perubahan selalu berhubungan dengan adanya “kelompok yang melawan”. Kaum resisten ini jumlahnya tidak banyak, tetapi mereka sangat vokal dan berjuang agar tidak kehilangan. Di bumi yang perasa, orang yang pernah menduduki posisi terhormat bila kehilangan jabatan karena tidak lolos fit and proper test bisa berarti kehilangan muka. Dan “kehilanganmuka” bisa berarti “tsunami” bagi pelaku pelaku transformasi.

Padahal transformasi tidak bisa jalan bila tidak mendapatkan energi yang kuat. Transformasi butuh suasana persatuan dan kepercayaan. Banyak orang tak menyadari, setiap langkah transformasi sangat berisiko bagi jabatan seseorang. Kalau hanya kehilangan kursi saja itu belumlah seberapa. Dalam banyak kasus, kelompok yang resisten tidak hanya mengungkit kursi, melainkan mencari cara untuk menemukan kesalahan-kesalahan kecil yang bisa diperbesar. Padahal dalam era VUCA, manusia bekerja dalam iklim yang kompleks dan mudah mengambil langkah yang salah, lupa atau ada saja kekurangannya.

The Burning Platform

Dalam buku ChaNgE! yang saya tulis tahun 2005, Robby Djohan memberikan kata pengantarnya. Ini mungkin kata pengantar terpendek yang pernah saya terima, tapi isinya sungguh mengena pada sasaran. Saya kutipkan saja sebagian: “Perubahan adalah bagian yang penting dari manajemen dan setiap pemimpin diukur keberhasilannya dari kemampuannya memprediksi perubahan dan menjadikan perubahan tersebut suatu potensi.

”Lalu, pada alinea kedua Robby menulis catatan yang menurut saya sangat penting bukan saja karena pengakuannya yang jujur, tapi memang sering kita alami: “Sering kali seorang CEO, termasuk saya sendiri, berhadapan dengan perubahan setelah dia sudah berada di ambang pintu.Situasi seperti ini mungkin dapat diatasi, tetapi hasilnya pasti bukan sebagai suatu potensi ataupun kegunaan.” Robby memang selalu bicara to the point.

Perubahan, bagi sebagian kita, adalah sesuatu yang menakutkan. Namun, manakala kita berhasil mengendalikan rasa ketakutan itu, perubahan menjadi energi yang luar biasa untuk membuat kita bangkit kembali. Namun manakala kita kalah, betapa bisingnya suara di luar. Apalagi bila Anda melakukan perubahan pada lembaga yang ada hubungannya dengan negara, milik negara atau milik pemerintah daerah. Anda akan menyaksikan banyak “peluru nyasar” yang tidak jelas hendak ditembak ke mana.

Perhatikan saja betapa “bisingnya” keributan di seputar Bank BJB yang muncul justru pada saat pemungutan suara. Itu pun bisa jadi ajang perpecahan sesama aktivis yang mulanya sama-sama mau memberantas korupsi. Ada peluru yang ditujukan kepada salah satu kandidat meski informasi awalnya mungkin berasal dari orang dalam yang ditujukan kepada salah satu calon direksi yang jabatannya diinginkan orang lain. Lalu ada lagi peluru yang disasarkan kepada CEO.

Penembak yang lihai ternyata juga tak bisa menembakkan peluru ke sasaran yang tepat karena begitu masuk ke ranah politik,tiap pihak punya kepentingan yang berbeda dan sulit dikendalikan. Akhirnya tsunami terjadi betulan, bukan hanya change maker yang terlibat, melainkan juga lembaganya akan sulit dibangun kembali.

Belajar dari berbagai perubahan yang dilakukan di sejumlah lembaga publik maupun BUMN besar yang rumit mengingatkan saya pada sosok panglima perang yang terkenal dalam sejarah Islam, Thariq bin Ziyad.

Kisahnya kurang lebih begini. Thariq yang lahir sekitar tahun 670 Masehi dibesarkan kabilah Nafazah di Afrika Utara. Perawakannya tinggi, keningnya lebar, dan kulitnya putih kemerahan. Thariq adalah murid seorang komandan perang di Afrika Utara yang dikagumi karena kegagahannya, kebijaksanaannya, dan terutama keberaniannya. Suatu ketika seorang pangeran Spanyol, Julian, meminta bantuan pembimbingnya untuk menaklukkan Raja Roderick yang berkuasa di Spanyol.

Lalu, Thariq diutus untuk mengintai kekuatan bangsa Visigoth dan menjajaki kemungkinan pengiriman pasukan dalam jumlah besar. Akhirnya, waktunya pun tiba. Ketika Raja Roderick sedang sibuk menghadapi pemberontakan di kawasan utara kerajaannya, Thariq datang dengan 7.000-an prajuritnya untuk menyerbu Spanyol. Pengiriman pasukan dilakukan melalui laut. Pasukan ini mendarat di dekat gunung batu besar yang kelak dinamai Jabal (Gunung) Thariq. Orang-orang Eropa menyebutnya Gibraltar.

Ketika sampai di Spanyol, Thariq mengambil keputusan yang sangat mengejutkan seluruh prajuritnya dan dikenang sebagai langkah fenomenal hingga saat ini. Ia membakar semua perahu yang digunakan untuk mengangkut para prajuritnya. Para prajuritnya tentu saja terperangah, kaget, dan sebagian bahkan marah. Setelah membakar semua perahu, Thariq berdiri di hadapan prajuritnya dan berkata, “Di mana jalan pulang? Laut ada di belakang kalian. Musuh ada di depan kalian. Mereka sudah siaga. Sementara kalian tidak memiliki bekal lain kecuali pedang, tidak ada makanan kecuali yang dapat kalian rampas dari tangan musuh-musuh kalian.”

Dalam ilmu manajemen, apa yang dilakukan Thariq dikenal dengan istilah the burning platform dan itu pulalah yang dilakukan para change maker yang piawai kala dipercaya memimpin transformasi.

Kebanyakan pemimpin mau tak mau harus menciptakan kondisi yang membuat semua orang tidak punya pilihan lain, tidak bisa mundur lagi, sama seperti yang Thariq lakukan. Kalau mau bertahan hidup, Thariq dan para prajuritnya hanya punya satu pilihan, yakni maju terus. Begitu pula yang terjadi dengan kebanyakan perusahaan milik negara yang sarat politisasi. Kalau para karyawannya ingin bertahan hidup, mereka harus maju membenahi bersama.

Hanya itu pilihannya. Masalahnya, apakah para aktivis kebijakan publik mengerti bahwa mereka bisa dipakai kaum resisten untuk menaburkan peluru amarah mereka yang sedang kehilangan muka? Pilihannya hanya dua: bersekutu dengan the losers yang resisten atau memperkuat the winners agar menghasilkan transformasi yang berujung kebaikan. Atau mungkin mereka berpikir ada opsi ketiga yang kita tak pernah tahu apa itu. Kala keributan menjadi mahal, semua ada ongkosnya dan tentu saja ada tukang catutnya.

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI | @Rhenald_Kasali on twitter

pkspiyungan



FSLDK Jadebek Gelar "Inspiring Muslim Youth Conference"



Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus wilayah Jakarta-Depok-Bekasi (FSLDK JADEBEK) akan mengadakan acara "Inspiring Muslim Youth Conference (IMYC)". 

Acara muktamar Forum Silaturahim Dakwah Kampus Daerah (FSLDK-D) ke- VII ini bertema, "Berjuang dengan Ilmu, Berkarya Penuh Cinta untuk Senyum Indonesia."

Dalam siaran pers yang diterima islamedia, Jumat (1/3/2013) disebutkan agenda yang akan diadakan di Universitas Islam "45" (UNISMA) Bekasi, Jawa Barat pada hari Sabtu-Ahad, 2-3 Maret 2013 itu, akan dihadiri sekitar 200 aktifis dakwah kampus dari 28 lembaga dakwah kampus se-Jadebek.

Sejumlah narasumber akan mengisi rangkaian konferensi itu, diantaranya :


• Ustadz Heri Nurdi (penulis dan pakar zionis Indonesia) dengan tema “sejarah Kepemimpinan Pemuda di Indonesia”.
 
• Ustadz Budi Darmawan (suami dari Almh. Ustadzah Yoyoh Yusroh) dengan tema "Tantangan Kepemimpinan Pemuda Islam di Indonesia”.

• Ustadz Ahmad Setiabudi (Ketua Salam UI X2 2009) dengan tema,"Manhaj Dakwah Kampus dan Management Dakwah Kampus"

• Edy Siswanto (Ketua FSLDK Indonesia) dengan tema “Peran FSLDK Sebagai Akselerator Pergerakan Dakwah Kampus” 

• Marjuki Zulziar (Ketua FSLDK Jadebek) dengan materi kelas FSLDK, "Konsolidasi Divisi Perbidang untuk FSLDK Selanjutnya."


"Acara ini juga untuk memilih ketua Puskomda dan pengurus FSLDK JADEBEK yang baru, " kata Ketua Pelaksana IMYC, Jaka Nugraha.

Islamedia

Surat Misterius Ketua DPRD Sumut Gagalkan Pelantikan Gatot Pujo Nugroho

Pelaksana Tugas Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho. (gatotpujonugroho.com)



Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho, ternyata sama sekali tidak memperoleh pemberitahuan resmi pelantikannya menjadi gubernur defenitif, dibatalkan.
Padahal sebelumnya undangan pelantikan resmi ia peroleh dari DPRD Sumatera Utara. Sehingga akibat kondisi ini, tidak heran jika ia merasa benar-benar kecewa dan merasa dirugikan.
“Sampai sekarang tidak ada pemberitahuan secara resmi kepada saya (pelantikan dibatalkan). Kalau ditanya apakah ini penzaliman, yang pasti saya dirugikan. Karena harusnya waktu-waktu yang cukup singkat (menjelang Pilkada,red) saya bisa manfaatkan menyapa masyarakat. Tapi akhirnya seharian berada disini, namun pelantikannya batal,” ujar Gatot di Jakarta, Kamis (28/2) petang.
Namun begitu, ia enggan menanggapi apakah ada unsur politik dibalik apa yang terjadi. Dengan rendah hati, pria yang ramah senyum ini hanya menyatakan mungkin sekarang ini belum waktunya.
“Saya sadari politik identik dari intrik. Tapi saya yakin masyarakat di Sumatera Utara itu merupakan pemilih yang cerdas dan elegan. Mudah-mudahan mereka bisa melihat hal ini dengan jernih apakah ada unsur politik atau tidak,” ujarnya yang mengaku datang ke Jakarta dengan menggunakan pesawat pukul 07.00 WIB dari Medan menuju Jakarta dan akan kembali ke Medan Kamis malam sekitar pukul 19.45 WIB.
Hingga pukul 16.30 WIB, puluhan undangan yang secara khusus datang dari Medan, terlihat masih ramai berkerumun di halaman Gedung Kemendagri, Jakarta.
Mereka masih bertanya-tanya apakah pelantikan masih dapat dilakukan, atau telah dibatalkan. Namun akhirnya setelah mendapat kepastian, sejumlah anggota DPRD Sumut berkumpul di Kantor Penghubung Provinsi Sumut di Jakarta yang terletak di Jalan Jambu, Menteng.
Termasuk tiga pimpinan DPRD Chaidir Ritonga dari Fraksi Golkar, Sigit Pramono Asri dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) dan Kamaluddin Harahap dari Partai Amanat Nasional (PAN).
Dalam penjelasannya, Chaidir menyatakan mereka tidak tahu adanya surat pernyataan pembatalan dari Ketua DPRD Sumut Saleh Bangun.
“Kita telah bertanya kepada Mendagri dan beliau menyatakan, pembatalan karena adanya surat dari Ketua DPRD Saleh Bangun tertanggal 28 Februari. Isinya meminta pelantikan dibatalkan. Surat tersebut membatalkan surat sebelumnya yang juga dikirim di tanggal yang sama. Dalam surat alasannya hanya disebut karena sesuatu hal,” ujarnya.
Alasan penundaan pelantikan ini menurut Chaidir yang kemudian disampaikan kepada teman-teman anggota DPRD yang hadir lebih kurang 30 orang. Akibatnya, beberapa diantara anggota dewan menjadi emosi. Bahkan ada yang protes dan memaksa pelantikan tetap dilakukan Kamis ini juga, karena dinilai akan menghemat waktu dan biaya.
Menanggapi aspirasi tersebut, Chaidir mengaku kembali mencoba berkonsultasi dengan Mendagri. Namun Gamawan Fauzi menyatakan pelantikan sepenuhnya kewenangan DPRD Sumut. Karena itu ia meminta pimpinan DPRD segera membahas permasalahan yang ada.
“Beliau menyatakan pelantikan akan dilakukan dengan syarat surat menyurat formal menjadi rujukan. Maka seyogyannya surat Saleh Bangun akan kami cabut kembali. Tapi tentu melalui mekkanisme pimpinan DPRD Sumut,” katanya.
Secara mekanisme, surat yang disampaikan Saleh menurut Chaidir, dapat dibatalkan oleh pimpinan DPRD. Karena surat tersebut hanya sepihak tanpa persetujuan para pimpinan DPRD yang lain.
“Kami bertiga sebenarnya bisa menganulir surat tersebut. Tapi mekanismenya untuk pelantikan kan tetap harus melalui surat resmi kepada Mendagri. Nah surat ini yang tidak mungkin bisa kita keluarkan hari ini (Kamis,red), karena kami berada di Jakarta, sedangkan kop surat ada di Medan,” katanya.
Untuk itu guna menghadapi kondisi yang ada, Chaidir memastikan pimpinan DPRD Sumut akan segera menggelar rapat. Baik untuk meminta penjelasan resmi dari Saleh Bangun, maupun penjadwalan ulang pelantikan. “Kita harapkan Senin (4/3), tapi mekanisme penetapannya itu kan harus lewat rapat pimpinan,” katanya.
Saat ditanya sikapnya atas surat Saleh Bangun, Chairdir dan dua pimpinan DPRD lainnya mengaku kecewa. Namun begitu mereka belum dapat bersikap sebelum memeroleh penjelasan resmi. Hanya saja ia tidak menutupi akibat peristiwa ini, muncul mosi tidak percaya sejumlah anggota DPRD terhadap kepemimpinan Saleh Bangun.
“Dari sebagian teman-teman muncul mosi tidak percaya. Bahkan ada yang berniat membawa permasalahan ini ke Badan Kehormatan DPRD. Saat ini kami belum bisa menyikapinya, namun itu merupakan hak para anggota dewan menyatakanya. Kami tidak bisa melarangnya,” ujar Chaidir.
Saat dihibungi via telpon selulernya, Ketua DPRD Sumut Saleh Bangun mengaku sedang berada di luar kota mengikuti rapat. “Saya sedang rapat di luar kota, nanti saya jelaskan ya. Hari Senin saja konfrensi pers,” ujarnya.
Ketika disinggung mengenai surat rahasia yang dikirimkannya ke Kemendagri, Saleh enggan memberikan komentarnya. “Nanti tunggu saja hari Senin ya, saya jelaskan pas konfrensi pers ya. Karena saya belum bisa jelaskan sekarang,” ujarnya.
Kabag Umum Sekretariat DPRD Sumut Syahrul membenarkan surat penundaan dikeluarkan secara resmi dari DPRD Sumut, isinya tentang penundaan pelantikan Plt Gubsu Gatot Pujo Nugroho menjadi Gubsu definitif. Surat tersebut dibawa Sekwan DPRD Sumut setelah diketik di Kota Medan dan distempel baru ditandatangi Ketua DPRD Sumut Saleh Bangun di Jakarta.
“Isi surat tersebut berisi tentang penundaan pelantikan Gatot karena sesuatu hal,” ujarnya.
Sementara itu, Anggota DPRD Sumut Muslim Simbolon menyatakan, DPP PAN melalui Ketua DPP Pan Catur, sudah mengeluarkan instruksi agar semua anggota fraksi PAN dilarang hadir di pelantikan Gatot Pujo Nugroho menjadi Gubsu definitif. “Alasannya karena pelantikan menghamburkan uang rakyat. Jadi jika ada yang menghadiri akan diberi sanksi,” ucapnya.

dakwatuna

Tempo Sering Serang PKS untuk Mengerem Kerugiannya?


Tempo agaknya sangat suka memberitakan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), akhir-akhir ini. Selama Februari 2013, tiga dari empat edisi majalah Tempo mengambil isu PKS sebagai headline.

Pada edisi 3 Februari 2013, cover majalah Tempo berjudul “Suap Sapi Berjanggut” lengkap dengan gambar sapi berlogo PKS sedang memakan uang. Pada edisi 10 Februari 2013, cover majalah itu bergambar LHI dan Anis Matta yang sedang memasak daging. Tertulis judul besar di cover “Hangus!”, dengan headline “Partai Putih di Pusaran Kasus Hitam.”

Sedangkan pada edisi 24 Februari 2013, bertepatan dengan Pilgub Jabar, majalah tempo memajang gambar Aher membawa buku tabungan di cover depan, dengan judul “Runyam Aher Bank Dibobol.”

Tempo online (tempo.co) agaknya juga tidak kalah “bernafsu” untuk “menyerang” PKS. Itu terlihat dari tindakan “gegabah” merilis berita hasil Pilgub Jabar yang bisa dikesankan menggiring opini bahwa pasangan Ahmad Heryawan – Deddy Mizwar kalah.

“Hasil Real Count KPU, Rieke-Teten Unggul 47 Persen” demikian judul awal di laman http://www.tempo.co/read/news/2013/02/24/078463394. Meskipun isinya adalah perkembangan perhitungan manual KPUD Jabar, prosentase yang ditulis salah fatal. “Peringkat pertama ditempati Rieke-Teten 3.172 (47 persen). Disusul Aher-Deddy Mizwar 3.069 (45,5 persen). Dede-Laksamana 2.094 (31 persen). Yance-Tatang 1.890 (28 persen). Dikdik-Toyib 211 (3.1 persen),” tulis Tempo.co, Ahad (24/2). Jika dijumlahkan, total prosentase suara melebihi 100 persen, yakni 154,6 persen. Setelah diprotes, judul berita itu pun diganti menjadi “Hasil Sementara KPU, Rieke-Teten Unggul.”

Tempo Terus Merugi?
Menurut Konsultan Manajemen Media dan Mahasiswa S3 Ilmu Komunikasi, Muhammad Rahmad, Tempo sedang mengalami kerugian hingga puluhan milyar rupiah.

“Pada laporan keuangan PT. Tempo Inti Media Tbk yang dipublikasikan EMIS (Emerging Markets Information Service) menyebutkan perusahaan mengalami kerugian. Pada bisnis kuartal 1 (Jan-Mar 2012), PT. Tempo Inti Media Tbk mengalami kerugian bersih Rp. 1,4 Milyar. Secara kumulatif pada kuartal 2 (Jan-Juni 2012), total kerugian bersih PT. Tempo Inti Media Tbk menjadi Rp. 8,5 Milyar. EMIS belum mempublikasikan data keseluruhan PT. Tempo Inti Media Tbk untuk tahun 2012” tulis Pemerhati perkembangan sosial dan politik itu di kompasiana.

“Jika melihat trend kerugian bersih yang dialami perusahaan Tempo yang terus meningkat dari Kuartal 1 ke 2, perkiraan saya, selama tahun 2012, perusahaan ini mengalami kerugian bersih lebih besar lagi. Apalagi ketika saya amati saat saya berada ditoko buku selama 2 jam lebih, tidak ada seorangpun yang berminat membeli majalah Tempo Edisi terakhir,” tambahnya.

Serang PKS?

Mengomentari tulisan Muhammad Rahmad, sejumlah kompasianer menghubungkan kerugian Tempo dengan pemberitaan media itu terkait PKS.

“hmm ogut jadi ngerti kenape tempo selalu jadikan PKS sbg dagangan. hanya utk dongkrak oplah. maklum kalo PKS jadi berita banyak yg nyari” tulis salah seorang kompasianer.

“Setuju dengan pendapat Wong Ndeso. Tempo itu suka nyerang umat Islam, termasuk menyudutkan PKS. Headlinenya provokatif, namun tak jarang yang tidak valid. Akhirnya menuai protes dan bantahan. Mungkin tempo sengaja berbuat seperti itu agar laku. Tapi ya itu, pertama orang baca, habis itu muak” timpal kompasianer lainnya.

bersama dakwah