Sabtu, 12 Januari 2013

Berdakwah Melalui Parpol itu Tidak Syar'i??



Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Berdakwah lewat partai politik memang sering menimbulkan polemik. Ada yang setuju dan mendukung sekali secara mutlak, tetapi ada juga yang justru sangat antipati. Di tengah-tengahnya ada kalangan yang agak mengambang, antara mendukung dan tidak, semua dikembalikan kepada manfaat dan madharatnya.

Kalau mau dikembalikan ke zaman nabi Muhammad SAW, rasanya kita memang tidak menemukan sosok beliau sebagai aktifis partai. Bukan apa-apa, sebab memang tidak ada partai-partaian di masa beliau. Makkah memang tidak menganut sistem politik seperti di masa kita sekarang ini. Boleh dibilang sistemnya adalah kabilah dan suku, bukan pola semacam state atau negara, bahkan kerajaan pun juga bukan.

Maka kalau acuannya harus ada contoh teknis dari Rasulullah SAW, rasanya memang tidak akan ketemu dalilnya. Tapi apakah bila tidak ada contoh teknis acuan yang detail, lantas berpartai boleh dibilang bid'ah atau menyalahi sunnah?

Pada titik inilah sebenarnya terjadi pangkal masalahnya. Dan polemik berkepanjangan antara pendukung dan anti dakwah lewat partai memang sering terjebak pada diskusi yang tidak habisnya. Kadang diskusi itu ikut memanas sesuai dengan suhu politik, dan dingin dengan sendirinya dengan kondisi yang lain.

Pendukung Dakwah Lewat Partai

Kalau kita teliti lebih dalam, dakwah lewat partai terkadang malah diperintahkan. Bahkan kami menemukan pernah sampaikan dalam jawaban terdahulu bahwa beberapa ulama yang sering dianggap sebagai tokoh salafi, seperti Syeikh Bin Baz, Syeikh Al-Utsaimin, Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-AlBani, Syeikh Dr. Shalih bin Fauzan, Syeikh Abdullah bin Qu'ud dan lainnya
malah membolehkan dakwah lewat partai.

Yang jadi pertanyaan adalah, mengapa mereka cenderung membolehkannya? Bukankah sistem partai itu bersumber dari sistem kafir? Bukankah demokrasi itu bertentangan dengan hukum Allah? Bukankah Islam tidak mengenal sistem pemungutan suara? Bukankah kekuasaan bukan di tangan rakyat tapi di tangan Allah?

Kalau kita cermati latar belakang kenapa mereka membolehkannya, semuanya hampir mirip jawabnnya, yaitu selama berpartai itu memberikan manfaat buat umat dan ada mashlahat yang bisa dicapai, tentu dibenarkan dan tidak ada alasan untuk menolaknya.

Lalu bagaimana dengan kufurnya sistem demokrasi? Bukankah kita tidak boleh masuk ke dalam sistem kufur itu?

Syeikh Bin Baz menjawab, "Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap amal itu tergantung pada niatnya. Setiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya. Oleh karena itu tidak ada masalah untuk masuk ke parlemen bila tujuannya memang membela kebenaran serta tidak menerima kebatilan. Karena hal itu memang membela kebenaran dan dakwah kepada Allah SWT.

Begitu juga tidak ada masalah dengan kartu pemilu yang membantu terpilihnya para da'i yang shalih dan mendukung kebenaran dan para pembelanya, wallahul muwafiq."

Ulama besar Saudi Arabia yang pernah menjabat sebagai mufti kerajaan ini menambahkan, "Masuk ke dalam lembaga seperti itu berbahaya, namun bila seseorang punya ilmu dan bashirah serta menginginkan kebenaran atau mengarahkan manusia kepada kebaikan, mengurangi kebatilan, tanpa rasa tamak pada dunia dan harta, maka dia telah masuk untuk membela agama Allah SWT, berjihad di jalan kebenaran dan meninggalkan kebatilan."

"Dengan niat yang baik seperti ini, saya memandang bahwa tidak ada masalah untuk masuk parlemen. Bahkan tidak selayaknya lembaga itu kosong dari kebaikan dan pendukungnya."

Pendapat Syeikh Al-Utsaimin

Pada bulan Zul-Hijjah 1411 H bertepatan dengan bulan Mei 1996 Majalah Al-Furqan melakukan wawancara dengan Syaikh Utsaimin. Wartawan majalah Al-Furqan bertanya tentangapa hukum masuk ke dalam parlemen.

Syaikh Al-'Utsaimin menjawab bahwa dirinya memandang bahwa masuk ke dalam majelis perwakilan (DPR) itu boleh. Bila seseorang bertujuan untuk mashlahat, baik mencegah kejahatan atau memasukkan kebaikan.

Sebab menurut beliau, semakin banyak orang-orang shalih di dalam lembaga ini, maka akan menjadi lebih dekat kepada keselamatan dan semakin jauh dari bencana. (Lihat majalah Al-Furqan - Kuwait hal. 18-19)

Pendapat Yang Anti Partai

Sedangkan argumentasi kalangan yang anti partai ada dua macam.

Pertama, mereka yang sejak awal memang sudah antipati dengan dakwah dengan cara apapun kecuali seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Jadi dakwah itu menurut mereka tidak boleh pakai partai, harus ceramah dan pidato saja.

Kalangan ini memang sejak awal sudah tidak pernah mendukung urusan berpartai, bahkan tidak sedikit dari mereka juga tidak pernah mau ikut pemilu dan sejenisnya. Mungkin buat mereka, berpartai itu hanya buang-buang umur, mending ngurus bisnis. Kita bisa menyebut mereka sebagai kalangan yang masa bodo dengan partai.

Kedua, adalah kalangan yang awalnya ikut setuju dan mengusung dakwah lewat parlemen. Namun dalam perjalanannya, dinamika organisasi membuatnya 'tergeser keluar', seolah sudah tidak 'terpakai' lagi. Atau malah merasa tidak 'pernah dipakai'. Hanya dijadikan prajurit yang bekerja keras, sementara segelintir kalangan elit duduk enak-enakan menikmati semua fasilitas mewah yang diterimanya.

Maka sedikit demi sedikit kekuatan beberapa partai itu menjadi agak rapuh, karena ada semacam resistensi dari akar rumput secara internal, yang awalnya kecil tapi kemudian semakin sering muncul. Hal seperti ini sering kita lihat di hampir semua partai, baik yang mengusung nama Islam atau yang masih 'agak' malu-malu dengan aroma Islam.

Saling Hormat

Lepas dari polemik yang tidak ada habisnya itu, maka akan menjadi manis rasa perbedaan itu seandainya semua tetap dihiasi dengan akhlaq, adab Islami, husnudzhzan, cinta kepada sesama muslim, dan toleransi.

Sebab perbedaan dalam memlih teknis berdakwah ini sampai hari kiamat tidak akan ada habisnya. Sampai ada teman yang senangnya mikirin hari kiamat saja sambil menanti-nanti kapan Imam Mahdi datang.

Kalau ada teman kita yang asyik dengan dakwah di parlemen dan mungkin kita tidak setuju, tentu tidak pada tempatnya untuk kita caci maki atau kita jatuhkan citranya di muka umum.

Sebaliknya, kalau kita termasuk yang punya semangat empat lima mendukung dakwah lewat partai, tidak ada salahnya kita bertenggang rasa dengan kalangan yang agak kurang mendukung dakwah model partai. Jangan kita vonis sebagai pembangkang atau pengkhiatan dulu, sebab boleh jadi yang terjadi adalah macetnya jembatan komunikasi.

Setidaknya kalau tidak bisa bersatu, tapi tidak harus saling ejek, saling caci, saling benci, saling jegal dan saling menjatuhkan. Sebab biar bagaimana pun kita ini bersaudara. Dan harga persaudaraan itu jauh lebih berharga dari semua yang akan kita capai. Persaudaraan itu nikmat yang Allah SWT karuniakan, maka syukurilah nikmat bersaudara itu.

Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat persaudaraan dari Allah itu menjadi orang-orang yang bersaudara (QS. Ali Imran: 103)

Alangkah tragisnya kalau sesama saudara sendiri kita malah saling melontarkan dugaan yang kurang pantas. Bukankah Allah SWT telah melarang kita dari perbuatan keji itu?

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka, karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujuran: 12)

Tanpa sadar terkadang majelis kita lebih sering jadi majelis pergunjingan, misalnya tentang si Fulan yang dulu keredan sekarang naik mobil mewah karena jabatannya. Atau tentang si Fulan yang dulu mau nikah saja teman-temannya harus patungan, tapi sekarang lagi asyik memanjakan isteri mudanya jalan-jalan ke luar negeri.

Dan kalau mau diusut ke sana kemari, rasanya kok sumber segala masalah itu kembali ke harta. Jadi tidak salah kalau Allah SWT berfirman:

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. Al-Anfal: 28)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Tukang ojek yang cerdas





Dibawah ini adalah kisah nyata antara seorang Novelis Jogja dan Tukang Ojek pada tahun 2009 lalu,kisah ini diberi judul"PKS dihati WONG CILIK"smoga bisa menjadi motivasi dan spirit bwt antum sekalian tuk lebih berkeja lagi pemenangan PKS 2014..

Saya sempat ngobrol dengan dengan seoang tukang Ojek di dekat Stasiun Jogjakarta. Singkat cerita:
“Baru kampanye Pak?” tanya saya.
“Iya,” jawab Tukang Ojek.
“Wah lumayan ya pak!” lanjutku blak-blakan.
“Iya mas, saya udah ikut kapanye 8 Parpol! Lumayan, nonton dangdut dapat uang bensin dan hasilnya sama dengan saya ngojek 8 hari!” ucapnya antusias.
“Oh….” aku manggut-manggut.
“Kalau masnya pernah ikut kampanye?” tanyanya lagi sambil memasukkan baju parpolnya kedalam tas punggung yang di gantung di pos ojeknnya.
“Sampai sekarang belum!” jawabku lirih.
“Wah sayang mas! Rata-rata sekarang Rp. 50.000,- kalikan aja 20 Parpol! 1 Juta tuh Mas!” sahutnya antusias!
“Ya kalo gitu kita harus nyoblos 20 partai dong Pak!?” jawabku sambil tersenyum.
“Justru itu! Kita ikut kampanye semua parpol! Kita coblos yang tidak membayar kita! Kalau semua membayar saya untuk kampanye, saya bingung harus milih mana! Ya saya milih yang tidak membayar saya! Bener ndak?” penjelasannya cukup rumit.
“Bener sih bener Pak! Emang ada?” tanyaku lirih tidak yakin.
“Tuh!” tukang ojek itu menunjuk sebuah bendera yang berkibar di tepi jalan, sebuah bendera yang berjajar berdampingan dengan bendera-bendera lainnya.
kulihat bendera yang ditunjuknya adalah bendera dengan dominasi warna hitam,kuning dan putih  .. itulah PKS.

 

Rabu, 09 Januari 2013

Tahapan Dakwah PKS dalam Mewujudkan Khilafah Ala Minhajin Nubuwah


konsep PKS dalam mewujudkan Khilafah saya ringkas dalam tulisan berikut:

PKS kini dalam tahapan Ishlahul Hukumat dari 6 tahapan IQOMATUL KHILAFAH menuju USTADZIATUL 'ALAM (menjadi soko guru/penguasa dunia)

1. Tahap Pertama
Tarbiyah/­Takwin Syakhsiyah Islamiyah...

Atau membentuk kepribadian muslim dalam setiap person yang menyatakan dirinya muslim. Tahapan ini terus berlangsung dan tidak boleh berhenti. Dalam mihwar tarbawi ini semua kader PKS menerapkan kaidah ASHLIH NAFSAK WAD'U GHOIROK (perbaiki dirimu dan ajak orang lain agar menjadi baik)

Nah kader PKS yang sekarang jadi RT dalam tahap ISHLAHUL HUKUMAH di tataran paling rendah. Disamping itu, kader PKS yang jadi RT juga melakukan Mihwar Tarbawi dan Mihwar Sya'bi yaitu membangun MUJTAMA MUSLIM yg dalam tahapan dakwah PKS masuk dalam tahapan ketiga.

2. Tahapan kedua

BINA AL USROH AL MUSLIMAH
membangun keluarga islami.

setelah banyak kader2 yg memiliki syakhsiyah islamiyah, tentunya mereka tidak bisa hidup sendiri. Mereka harus berkeluarga.
Keluarga Islami harus di bangun oleh pribadi2 yg islami. Sehingga kelak keturunan dari keluarga kader PKS menjadi dzurriyah shalihah.

3. Tahapan Ketiga

BINA AL MUJTAMA' AL MUSLIM
rekontruksi masyarakat muslim.

para kader PKS yg sdh berkeluarga harus dpt membangun komunikasi dg tetangga dan masyarakat lingkungan yg terdkat dg rumahnya.

Rasulullah berpesan aljar qabla addar. Tetangga sblm rumah. Sehingga begitu penting rekontruksi lingkungan agar islami.

Pd thapan ke 3 inilah kader2 PKS melakukan dakwah tahap yg pertama, yaitu membentuk stiap pribadi yg ada pd masyarakat agar di TAKWIN menjadi SYAKHSIYAH ISLAMIYAH.

oleh krn itu, dlm tahapan ke 3 ini kader2 PKS d dorong menjadi ketua RT, RW, KETUA DKM MASJID, KARANG TARUNA, LSM DI LINGKUNGAN, KETUA MAJELIS TA'LIM.

smua d lakukan agar ada akselerasi dlm NASYRUL FIKROH. Sehingga pembentukkan SYAKHSIYAH ISLAMIYAH dan USROH MUSLIMAH berkesinambunga­n dan tdk terputus ketika harus pindah ke tahapan berikutnya

4. Tahap keempat.

ISHLAHUL HUKUMAH
memperbaiki sistem pemerintahan.

inilah yg d sebut dlm PKS dg Mihwar Muassasi. Dakwah kelembagaan negara. Belum msk dlm tahap kelima IQOMAH AD DAULAH AL ISLAMIYAH.

tahap keempat kader PKS yg d tugaskan dlm ISLAHUL HUKUMAH harus bekerja keras memperbaiki sistem yg sdg berjalan.

utk thapan ini sangat berat. Krn kader PKS hanya 1 digit dr 250jt rakyat Indonesia. Tdk semua persönil birokrasi kader PKS. Bahkan dr 1 kementrian yg diamanahkan kpd kader PKS dan karyawannya jutaan, kader PKS nya tdk lebih dr 20 org.

dlm ishlahul hukumah jg sangat berat krn bnyak org2 baik yg non PKS tersingkir atau karirnya mandeg krn d hambat oleh birokrat busuk. Disinilah PKS menggandeng birokrat baik dalam bingkai kaidah NATA'AWAN FIMAT TAFAQNA, WA NA'TADZIRU BA'DHUNA BA'DHON FIIMAKHTALAFNA,­ bekerjasama dlm kebaikan yg d sepakati.

5. Tahap kelima

IQOMAH AD DAULAH AL ISLAMIYAH.
mendeklarasikan­ negara islam.

dr tahap ke 4 menuju 5 tdk mudah, krn kekuatan kafir global akan turut bermain menjegal masyru islami/agenda islamisasi.

Kader2 PKS yg di tugaskan d lembaga negara berjuang agar nilai2 islam menjadi hukum positif. Bila d perlukan, kader2 PKS non parlemen akan buat aksi ekstraparlement­er utk dukung kader PKS yg ada d parlemen.
Gerakan ekstraparlement­er tdk serta merta pakai nama PKS, bs dg lembaga2 yg d kelola kader PKS.

deklarasi daulah islamiyah sangat tergantung dr strategi dan rencana global. Yg lbh penting dlm deklarasi daulah islamiyah adalah AL WA'YU AL ISLAMI masyarakat secara umum.

dapatkah daulah islamiyah d tegakkan tanpa dukungan kesadaran berislam masyarakat???

Saya cukupkan sampai 5 dulu kang luthpi, tahap ke enam adalah USTADZIATUL 'ALAM menjadi soko guru dunia dg kembali tegaknya sistem KHILAFAH ALA MINHAJIN NUBUWAH, kekhilafahan yg berdasarkan metode kenabian, bukan KHILAFAH DG METODE NABHANI

Sebetulnya antara tahap 5 dan 6 harus ada 1 thap lg sblm mencapai ustadziatul 'alam dan khilafah ala minhajin nubuwah.

Yaitu:
TAHRIRUL WATHON ISLAMI.
Membebaskan/­memerdekakan negeri2 islam yg terjajah.

sehingga pd saat kembali pd sistem khilafah ala minhajin nubuwah, negeri2 islam sdh jd kekuatan baru.

menurut saya yg paling sulit adalah takwin syaksiyah islamiyah yg mumpuni agar kader yg dilepas ke lapangan tangguh, medan berat lainnya adalah saat ishlahul hukumah, krn kita harus berjibaku dg berbagai kalangan dan harus memahami berbagai disiplin ilmu agar UU yg di produksi matang.

Selasa, 08 Januari 2013

Politik melulu !!! kapan dakwah nya ???



kok ngomong politik mulu? Kapan Da'wahnya?

Ko' akhir2 ini statusnya politik dan kampanye melulu….?
Apa ga sebaiknya statusnya diisi dengan nilai2 dakwah saja….
Begini…..

likulli maqaamin maqaalun… Setiap tempat dan situasi ada ungkapannya (yang cocok untuk disampaikan).

Kalau yang antum maksud dengan pertanyaan tersebut adalah mengapa status saya tidak berisi nilai-nilai dakwah saja, maka hendaknya masalahnya dipahami dengan cermat. Memilih atau mendukung terpilihnya pemimpin yang kita percaya dapat membawa nilai dan misi lebih baik daripada yang lainnya, menurut saya juga memiliki nilai dakwah yang tidak kalah pentingnya. Jadi, ini juga sebenarnya 'status dakwah', hanya 'kemasannya' yang sedikit beda. Kesannya memang 'mengejar kekuasaan', atau 'mengejar dunia'. Tapi saya meyakini, selagi ada orientasi dakwah di dalamnya serta tidak ada perkara prinsip yang dilanggar, maka, apa yang dikatakan sebagai 'mengejar kekuasaan' atau 'mengejar dunia' sesungguhnya dibalik itu terdapat medan dakwah dan medan pahala yang sangat besar.

Sebab, jika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam katakan, "Aku berjalan untuk memenuhi kebutuhan saudaraku, lebih aku suka daripada I'tikaf di masjidku sebulan." (HR. Thabrani), maka saya menganggap bahwa mendukung seorang calon pemimpin hingga terpilih, agar dengan itu diharapkan dapat membantu penyelesaian berbagai problematika masyarakat, adalah perkara yang sangat besar nilainya.

Bukankah golongan yang pertama kali disebut dari 7 golongan yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam katakan akan mendapatkan naungan di hari kiamat pada hari tidak ada naungan selain naungan Allah adalah 'Pemimpin yang adil'?

Bukankah Utsman bin Affan radhiallahu anhu pernah berkata,

إِنَّ اللهَ لَيَزَعُ بِالسُّلْطَانِ مَا لاَ يَزَعُ بِالْقُرْآنِ

"Sesungguhnya Allah mencegah (kemunkaran) lewat penguasa apa yang tidak dicegah melalui Al-Quran.."

Maksudnya adalah bahwa keputusan seorang penguasa yang berpihak kepada nilai-nilai dakwah dan agama dapat lebih efektif untuk mencegah kemunkaran ketimbang ayat-ayat dan nasehat-nasehat yang disampaikan. Perkara ini sangat jelas realitanya bagi siapa saja yang ingin merenunginya.

Bukankah para shahabat menunda pemakaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, tujuannya adalah agar mereka segera mendapatkan kepastian pemimpin setelah beliau wafat agar tidak timbul fitnah. Itu semua, dan masih banyak lagi bukti lainya, tak lain kecuali menunjukkan pentingnya seorang pemimpin yang mumpuni di tengah masyarakat. Maka, hal itu semestinya berbanding lurus dengan pentingnya kita memiliki peran, sedikit atau banyak, dalam mewujudkan kepemimpinan terbaik dari yang ada.

Bahwa masih banyak kekurangan di sana sini dan masih jauh mencapai titik sempurna, itu pasti. Lagipula tidak ada yang sempurna selain Allah Ta'ala. Namun, setidaknya di sana ada usaha manusiawi yang dapat dilakukan. Disamping, para ulama telah mengajarkan kepada kita….

مَالاَ يُدْرَكُ كُلُّهُ لاَ يُتْرَكُ جُلُّهُ

"Jika sesuatu (kebaikan) tidak dapat diraih seluruhnya, jangan tinggalkan semuanya."

Jadi, jangan terlalu tabu dengan kemasan 'dunia' dan 'politik' selagi yang dituju adalah akhirat dan kebaikan umat serta tidak ada perkara prinsip yang dilanggar. Sebaliknya, jangan terlalu 'terpedaya' dan 'terbuai' dengan kemasan 'akhirat' namun dibalik itu ternyata menyimpan hasrat duniawi dan cenderung menghindar dari problematika umat terkini.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ingatkan hal tersebut dalam sabdanya

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

"Sesungguhnya seseorang (boleh jadi) tampak di hadapan manusia melakukan amal ahli surga, padahal dia adalah (calon) penghuni neraka. Dan seseorang (boleh jadi) tampak oleh manusia melakukan amal ahli neraka, padahal dia adalah (calon) penghuni surga." (HR. Muslim)

Saya tidak ingin mengatakan bahwa 'saya adalah ahli surga' meskipun itu yang selalu saya mohon. Hanya yang ingin saya katakan adalah jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan hanya berdasarkan tampilan luarnya saja.

Jadi, 'politik' yang saya syiarkan melalui status saya sesungguhnya adalah bagian dari wilayah dakwah yang ingin saya geluti. Itupun saya akui tidak ada apa-apanya dibanding mereka yang langsung berjibaku di lapangan. Namun setidaknya saya ingin punya kontribusi walau sekecil apapun. Bagi saya, kalau kita memimpikan pemimpin yang baik, mengapa tidk sekalian menampakkan dukungan utk membantu mewujudkannya... ketimbang pasif menjadi penonton...

Di sisi lain, insya Allah, agenda dakwah yang sudah dijalani tdk ada yg diabaikan. Saya termasuk orang yang berpandangan bahwa politik memang bukan segala-galanya, tapi, aspek politik tidak dapat dilepaskan dari agenda dakwah, bahkan dari agenda kehidupan sosial kita!

Antum setuju?

Ahlan wa sahlan, kita dapat bergandengan tangan.

Antum tidak setuju?

Ahlan wa sahlan, kita tetap dapat saling memberi salam dan berjabat tangan… jangan sampai ada luka di antara kita …. :)

Saya tentu tidak dapat memaksa antum untuk mengikuti sikap saya, namun setidaknya kita dapat saling memahami … "Tidak harus org meyakini apa yg kau katakan, yang harus adalah engkau meyakini apa yang engkau katakan.."

Semoga Allah limpahkan kepada antum dan saya ilmu yang bermanfaat serta hidayah dan taufiq-Nya… aamiin.

Akhukum fillah…




Oleh : Abdullah Haidir, Lc
PIP PKS Arab Saudi
twitter: @abdullahhaidir1